Oleh:Heri Laksono, S.Sos (Mbah Sono)
Suburjagat.co.id | Gandrungmangu – Desa Gintungreja bukanlah sekadar koordinat mati di Google Maps. Ia adalah denyut nadi ekonomi dan barometer kemajuan bagi wilayah Gandrungmangu, bahkan Cilacap. Menjelang pesta demokrasi awal 2027, sebuah pertanyaan besar mengetuk pintu hati setiap warga:
“Apakah Gintungreja akan melesat menjadi desa mandiri yang berdaya saing, atau justru jalan di tempat karena kita salah menitipkan mandat?”
Kita diberkahi hamparan sawah yang luas dan masyarakat kreatif yang menghidupkan UMKM,mulai dari industri gula olahan hingga ekonomi kreatif. Namun, potensi hanyalah angka jika tidak dikelola dengan benar.
Pemimpin Gintungreja mendatang tidak boleh hanya “duduk manis” di belakang meja. Kita butuh sosok yang:
Komunikatif: Mampu menjalin sinergi aktif dengan pihak legislatif.
Strategis: Bukan sekadar formalitas, tapi mampu “menjemput” anggaran dan kebijakan demi kemajuan desa yang lebih masif.
Mari kita berani memutus rantai usang yang menganggap suara rakyat bisa dibeli dengan iming-iming sesaat. Kita harus sadar sepenuhnya: Politik uang adalah investasi buruk.
Seorang pemimpin yang “membeli” suara hanya akan sibuk menghitung cara untuk “balik modal,” bukan menghitung cara menyejahterakan rakyatnya. Ingatlah prinsip ini:
Saat suara kita terbeli, saat itu juga hak kita untuk menuntut perubahan ikut mati. Jangan gadaikan masa depan anak cucu kita demi lembaran rupiah yang habis dalam sehari.
Mengelola desa di era 2027 membutuhkan lebih dari sekadar “orang baik”. Gintungreja membutuhkan pemimpin dengan Mentalitas Manajer yang bekerja out of the box:
Melek Manajemen (The Creative CEO): Bukan pemimpin pasif yang hanya menunggu kucuran dana pusat, melainkan sosok yang mampu menyulap potensi desa menjadi mesin ekonomi yang menghidupi warganya.
Kepemimpinan Digital (Transparency & Speed):Teknologi adalah alat pemotong birokrasi yang rumit. Pelayanan desa harus transparan, akuntabel, dan secepat layanan digital masa kini.
Visi yang Autentik (No Copy-Paste): Kita butuh rencana yang lahir dari keringat dan pemahaman mendalam atas masalah di setiap gang desa, lalu dieksekusi dengan standar profesional.
Karakter yang Berintegritas (Takut kepada Tuhan): Di atas segala keahlian, pemimpin sejati sadar bahwa kekuasaan adalah titipan Tuhan. Kejujuran harus menjadi napas dalam setiap kebijakan, bukan sekadar slogan di baliho kampanye.
Pembangunan yang berkelanjutan harus bersumber dari kemandirian, bukan ketergantungan. Hal ini hanya bisa terwujud jika kemudi desa dipegang oleh tangan yang kompeten, kreatif, dan bersih.
Pada 2027 nanti, mari kita melangkah ke TPS dengan kepala tegak. Gintungreja memanggil pemimpin yang berkualitas SDM tinggi, teruji manajerialnya, amanah, dan takut kepada Tuhan.
Saatnya Gintungreja Berdaulat. Saatnya Memilih dengan Akal Sehat!
(Red/buyung)
