Suburjagat.co.id | Indramayu – Pengerjaan proyek rehabilitasi jalan Tembaga Raya senilai Rp3,3 miliar kembali menjadi cibiran publik. Kondisi beton disejumlah banyak titik jalan terpantau patah. Informasi ini diperoleh hasil cek dan ricek tim media secara langsung di lokasi, pada Rabu (15/07/2026).

Banyak pihak menilai, beton patah tersebut diduga diakibatkan karena proses pemadatan yang kurang maksimal. Tak hanya itu, kepengawasan konsultan di lokasi disinyalir hanya sekadar formalitas belaka.
Informasi yang bikin geleng kepala, bahwa konsultan pengawas yang berada di lokasi saat pelaksanaan proyek disebut-sebut tidak mengetahui gambar kerja. Hal ini disampaikan oleh Ketua WN 88 Indramayu, Ahmad Nur Irsyad.
Pernyataan Ahmad Nur Irsyad ini bukan tanpa alasan, saat itu ia mengkonfirmasi langsung konsultan pengawas di lokasi yang mengaku bernama Fikri tidak mengetahui mengenai pemasangan jarak besi dowel setiap titiknya.
Bahkan, lanjut Irsyad (sapaan akrab Ketua WN 88 Indramayu, Fikri yang sebagai konsultan pengawas tersebut beralasan tidak membawa gambar kerja sehingga tidak bisa memberi penjelasan secara detail mengenai standar teknis proyek rehabilitasi jalan tembaga.
“Saya konfirmasi langsung kepada Fikri sebagai konsultan pengawas, dia tidak bisa menjawab jarak besi dowel dengan alasan tidak membawa gambar, ini sangat tidak profesional,”Ucar Irsyad.
Pantauan saat pelaksanaan, Irsyad menyebut jarak pemasangan besi dowel diprediksi mencapai 50 meter. Di lokasi, ia mengaku tidak mengetahui keberadaan alat pemadat beton (concrete vibrator). Sejumlah persoalan ini, dinilai menjadi penyebab beton dibeberapa bagian titik patah.
Tidak hanya itu, proyek rehabilitasi jalan Tembaga Raya diduga tanpa didukung sejumlah alat lainnya seperti whell loader, crane on track (10-15 ton). Padahal, nilai anggaran untuk alat-alat tersebut diperkirakan tidak sedikit.
Menanggapi hal itu, seorang pengamat konstruksi berinisial I mengatakan bahwa semestinya alat pemadat beton (concrete vibrator) harus ada dan digunakan sesuai dengan fungsinya. Alat tersebut memiliki peran penting untuk menjaga keutuhan mutu dan kualitas beton.
“Concrete vibrator harus ada dan digunakan karena perannya sangat penting untuk menjaga keutuhan mutu beton,”Terangnya.
Proyek rehabilitasi jalan Tembaga Raya tersebut bersumber dari APBD Indramayu tahun 2026 senilai Rp 3.356.205.000. Paket yang dibawah naungan Dinas PUPR tersebut dikerjakan oleh CV Sigit Putra. Sedangkan konsultannya, yakni Lima Benua Consultant.
Sementara, belum ada penjelasan dari CV Sigit Putra, Lima Benua Consultant, maupun Dinas PUPR Indramayu mengenai informasi di atas. Hingga berita ini disusun, upaya konfirmasi masih terus dilakukan.
(RN/Tim)
