Suburjagat.co.id – Sejarah mencatat Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sudharmono, S.H. sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di lingkaran inti kekuasaan Orde Baru. Menjabat sebagai Wakil Presiden RI kelima (1988–1993) mendampingi Presiden Soeharto, perjalanan hidup Sudharmono laksana sebuah novel dramatis. Siapa sangka, sang jenderal yang dikenal sebagai “manajer birokrasi” tangguh ini mengawali hidupnya sebagai seorang anak yatim piatu yang hidup berpindah-pindah.
Masa Kecil yang Keras dan Yatim Piatu Sejak Balita
Lahir di Cerme, Gresik, pada 12 Maret 1927, Sudharmono merupakan buah hati dari pasangan Soepijo Wirodiredjo (seorang juru tulis kecamatan) dan Raden Nganten Sukarsi. Garis takdir menuntutnya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh sejak dini.
Saat usianya baru menginjak dua tahun, sang ibu meninggal dunia ketika melahirkan adik bungsunya. Nestapa tak berhenti di situ; hanya berselang enam bulan kemudian, sang ayah menyusul berpulang akibat sakit.
Menjadi yatim piatu di usia balita, Sudharmono kecil dan kakaknya harus menjalani hidup yang keras. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain—Surabaya, Jombang, Gresik, hingga Rembang—demi menumpang hidup di rumah sanak saudara.
Memasuki masa remaja, tepat setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama pada tahun 1945, Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Sudharmono memilih menunda pendidikan lanjutannya demi mengangkat senjata, membantu mengumpulkan persenjataan dari tentara Jepang, hingga akhirnya dipercaya menjadi Panglima Divisi Ronggolawe selama Perang Kemerdekaan melawan Belanda.
Menembus Inti Kekuasaan: Sang Juru Tulis Supersemar
Pasca-revolusi fisik, Sudharmono melanjutkan pendidikannya di Akademi Hukum Militer (AHM) Jakarta dan lulus pada 1956. Kariernya di dunia hukum militer melesat, mulai dari menjadi Jaksa Militer di Medan hingga bergabung dalam Komando Operasi Tertinggi (KOTI) pada masa konfrontasi Malaysia di bawah Presiden Soekarno.
Titik balik hidupnya terjadi pasca-peristiwa Oktober 1965. Ketika Soeharto naik menjadi Panglima Angkatan Darat, Sudharmono langsung memikat hati sang jenderal lewat kemampuan administratifnya yang jenius. Kepercayaan penuh dari Soeharto dibuktikannya pada momen krusial 11 Maret 1966. Sudharmono adalah sosok yang menyalin naskah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) untuk disebarkan ke perwira militer, sekaligus orang yang menulis draf dekret pembubaran PKI keesokan harinya.
Sejak saat itu, ia menjadi “arsitek birokrasi” Orde Baru. Sudharmono memegang jabatan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) selama hampir dua dekade (1970–1988). Di tangannya, Setneg bertransformasi menjadi lembaga super-powerful yang mengendalikan seluruh administrasi dan proyek pemerintah. Tak hanya itu, pada Munas III Golkar tahun 1983, ia terpilih menjadi Ketua Umum dan sukses mendongkrak suara Golkar hingga mencapai 72% pada Pemilu 1987.
Badai Politik Menuju Kursi Wakil Presiden
Kesuksesan besar di Golkar membuat Soeharto memilih Sudharmono sebagai calon Wakil Presiden pada Sidang Umum MPR 1988. Namun, jalan menuju kursi nomor dua di RI itu diwarnai ketegangan politik tertinggi dalam sejarah Orde Baru.
Pihak Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), yang saat itu dimotori oleh L.B. Moerdani, menolak keras pencalonan Sudharmono. Meski menyandang pangkat Letnan Jenderal, Sudharmono dipandang sinis oleh perwira lapangan karena menghabiskan kariernya di belakang meja. Isu politik hitam pun berembus, di mana Sudharmono secara kejam dituduh terlibat PKI—sebuah tudingan yang kemudian ditepis langsung oleh Soeharto.
Ketegangan memuncak di ruang sidang MPR ketika Jaelani Naro dari PPP nekat maju sebagai calon wapres tandingan, dan Brigjen Ibrahim Saleh melakukan interupsi kontroversial di tengah sidang. Ketegangan baru mereda setelah Soeharto turun tangan mengutip kriteria wapres yang harus bisa bekerja sama dengan presiden. Naro akhirnya mundur, dan Sudharmono resmi dilantik menjadi Wakil Presiden.
Selama menjabat sebagai Wapres, Sudharmono dikenal sangat aktif. Ia mengawasi langsung efisiensi birokrasi dan meluncurkan program legendaris Tromol Pos 5000—sebuah wadah bagi rakyat kecil untuk mengirimkan keluhan dan saran langsung kepada pemerintah.
Akhir Perjalanan Sang Penjaga Setia
Setelah turun dari jabatan Wapres pada 1993, Sudharmono tetap menjadi sosok yang setia di sisi Soeharto. Bahkan saat badai reformasi meruntuhkan kekuasaan Orde Baru pada Mei 1998, ia bersama mantan wapres lainnya tetap datang memberikan dukungan moral di Jalan Cendana. Di masa pensiunnya, ia tetap dipercaya mengelola yayasan-yayasan sosial peninggalan era Soeharto.
Perjalanan panjang sang jenderal birokrasi ini akhirnya usai pada Rabu malam, 25 Januari 2006. Sudharmono mengembuskan napas terakhirnya di usia 78 tahun di RS MMC Jakarta setelah berjuang melawan sakitnya. Ia meninggalkan seorang istri, Emma Norma, dan tiga orang anak. Sudharmono kemudian dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di Taman Makam Pahlawan Kalibata, dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sumber: Wikipedia
