{"id":11755,"date":"2026-01-20T06:29:11","date_gmt":"2026-01-20T06:29:11","guid":{"rendered":"https:\/\/suburjagat.co.id\/?p=11755"},"modified":"2026-01-20T06:29:29","modified_gmt":"2026-01-20T06:29:29","slug":"wartawan-tak-bisa-lagi-langsung-dijerat-pidana-ini-putusan-mk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/suburjagat.co.id\/?p=11755","title":{"rendered":"Wartawan Tak Bisa Lagi Langsung Dijerat Pidana, Ini Putusan MK"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Suburjagat.co.id | Jakarta &#8211; Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan bahwa wartawan tidak dapat langsung dituntut secara pidana maupun perdata atas karya jurnalistik yang dihasilkannya. Penegasan tersebut tertuang dalam Putusan Nomor 145\/PUU-XXIII\/2025 terkait uji materiil Pasal 8 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (UU Pers).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Putusan itu dibacakan Ketua MK Suhartoyo dalam sidang pengucapan putusan di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Senin (19\/1\/2026). Uji materiil tersebut diajukan oleh Ikatan Wartawan Hukum (IWAKUM).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam pertimbangannya, MK menyatakan frasa \u201cperlindungan hukum\u201d dalam Pasal 8 UU Pers bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat secara bersyarat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Frasa tersebut dinilai harus dimaknai secara jelas dan konkret agar tidak menimbulkan multitafsir yang berpotensi merugikan insan pers.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">MK menegaskan bahwa penerapan sanksi pidana dan\/atau perdata terhadap wartawan dalam menjalankan profesinya secara sah hanya dapat dilakukan setelah ditempuh mekanisme hak jawab dan hak koreksi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, dugaan pelanggaran kode etik jurnalistik juga harus terlebih dahulu diproses melalui Dewan Pers dan tidak mencapai kesepakatan, sebagai bagian dari prinsip restorative justice.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hakim Konstitusi Guntur Hamzah menyampaikan bahwa tanpa pemaknaan tersebut, norma Pasal 8 UU Pers berpotensi langsung menjerat wartawan dengan proses hukum pidana tanpa mekanisme perlindungan sebagaimana diatur dalam UU Pers.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cApabila norma tersebut tidak diberikan pemaknaan yang jelas dan konkret oleh Mahkamah, maka berpotensi langsung menjerat wartawan tanpa terlebih dahulu melalui mekanisme yang terdapat dalam ketentuan UU 40\/1999,\u201d ujar Guntur. Senin, (19\/1).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurutnya, pemaknaan bersyarat itu bertujuan untuk memastikan bahwa setiap tindakan hukum terhadap wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik harus mengedepankan mekanisme perlindungan pers.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cSehingga apabila terjadi sengketa yang bersumber dari karya jurnalistik, maka penyelesaiannya harus mengedepankan mekanisme sebagaimana diatur dalam UU 40\/1999 dengan pertimbangan Dewan Pers,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan putusan ini, MK menegaskan kembali posisi pers sebagai pilar demokrasi yang harus dilindungi, sekaligus memastikan adanya keseimbangan antara kebebasan pers dan mekanisme penyelesaian sengketa yang adil.<\/p>\n<p>(Warta)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Suburjagat.co.id | Jakarta &#8211; Mahkamah Konstitusi (MK) menegaskan bahwa wartawan tidak dapat langsung dituntut secara pidana maupun perdata<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11756,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","footnotes":""},"categories":[128],"tags":[],"class_list":["post-11755","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/suburjagat.co.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11755","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/suburjagat.co.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/suburjagat.co.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suburjagat.co.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suburjagat.co.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=11755"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/suburjagat.co.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11755\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11758,"href":"https:\/\/suburjagat.co.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/11755\/revisions\/11758"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/suburjagat.co.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/11756"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/suburjagat.co.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=11755"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/suburjagat.co.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=11755"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/suburjagat.co.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=11755"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}