Suburjagat.co.id | Indramayu – Tempat kuliner cimanuk atau yang dikenal dengan sebutan “kulcim”, merupakan salah satu tempat favorit yang sering dikunjungi oleh masyarakat di Kabupaten Indramayu, pada Kamis (09/07/2026).
Lokasinya yang berada di pusat kota Indranayu, membuat tempat ini banyak diminati oleh berbagai kalangan. Di sana, ada banyak aneka jajanan, makanan dan minuman tersedia dengan harga yang terbilang masih ekonomis.
Namun siapa sangka, dibalik tempatnya yang tak pernah sepi pengunjung karena lokasinya beriringan tepat di tepi sungai cimanuk itu, terdapat sisa-sisa bangunan besi tua yang mengingatkan memory akan carut-marutnya pengelolaan uang rakyat kala itu.
Mendengar nama “kulcim”, terlintas di otak mengenai proyek pembangunan panggung apung di sungai Cimanuk Indramayu yang kini tampak seperti bangkai yang tidak diinginkan kehadirannya karena tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi masyarakat luas.
Proyek yang hingga kini mangkrak itu, mulai dikerjakan pada tahun 2017 silam, diera kepemerintahan Bupati Indramayu Anna Sophanah.
Bahkan saking besarnya, proses pembangunan panggung apung tersebut tidak selesai hanya ditahun 2017. Proyek ini, dilanjutkan pengerjannya hingga tahun berikutnya yakni 2018.
Namun sayangnya, meski proses pembangunan panggung apung sungai cimanuk berlangsung 2 tahun, hingga kini proyek tersebut masih “diam di tempat” alias mangkrak tanpa ada kejelasan progres yang signifikan.
Anggaran yang dipakai untuk proyek panggung apung bukanlah jumlah sedikit. Pembangunan tersebut menelan dana APBD Indramayu ditaksir sebesar Rp 15 miliar lebih yang terbagi menjadi 2 tahap selama 2 tahun penganggaran.
Tahap pertama, yakni ditahun 2017 senilai Rp 9,4 miliar dikerjakan oleh PT Mega Utama. Tahap selanjutnya, ditahun 2018 menelan dana sebesar Rp 5,8 miliar yang dikerjakan oleh PT Rizki Diva Mulya.
Proyek mangkrak bagai bangkai
Frasa ini adalah kritik tajam yang sering digunakan masyarakat atau media untuk menggambarkan proyek pembangunan infrastruktur yang terhenti di tengah jalan dan dibiarkan rusak begitu saja.
Merusak pemandangan (estetika)
Bangunan panggung apung setengah jadi dengan besi yang sudah berkarat tersebut merusak tata kelola wilayah Indramayu bagian kota. Keindahan “kulcim” salah satu tempat favorit masyarakat itu ternodai akibat proyek mangkrak tersebut.
“Pemandangan sungai cimanuk di Kulcim menjadi kurang estetik akibat bangunan panggung itu, air di bawahnya juga terlihat keruh berwarna pekat,” Ujar Rahayu, Warga Indramayu
Proyek panggung apung yang mangkrak tersebut menimbulkan berbagai dampak buruk bagi masyarakat. Dari mulai kerugian finansial, sosial, dan kehilangan kepercayaan kepada pemerintah serta pihak kontraktor yang dinilai tidak bertanggung jawab.
(Roni/Tim)
